RIYADH, Kampasnews.com - Arab Saudi resmi terlibat dalam konflik militer terbuka setelah melancarkan serangan udara gabungan bersama Amerika Serikat (AS) yang menyasar milisi pro-Iran di Irak pada Rabu (29/7/2026). Langkah ini menandai pergeseran sikap tegas Riyadh setelah enam bulan memilih berada di balik layar sejak perang kawasan pecah pada Februari lalu.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menegaskan, gempuran udara tersebut sebagai balasan atas serangan terhadap sejumlah fasilitas minyak vital milik kerajaan sepanjang pekan ini. Dampak serangan tersebut memicu jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, mengecam keras serangan itu dan melabelinya sebagai bentuk agresi yang tidak dapat diterima.
“Kerajaan menegaskan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi, tetapi akan menanggapi setiap bentuk agresi yang mengancam kedaulatan,” tegas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, dikutip dari The New York Times
Keterlibatan militer secara terbuka ini mencerminkan dilema besar yang dihadapi Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Di satu sisi, perang mengancam cetak biru Visi 2030 yang dirancang untuk mengubah Arab Saudi menjadi pusat bisnis dan pariwisata dunia. Di sisi lain, pembatasan jalur ekspor minyak akibat perang turut memukul pendapatan utama anggaran negara.
Upaya perbaikan hubungan diplomasi yang telah dibangun Riyadh bersama Teheran dalam beberapa tahun terakhir runtuh seketika pasca-serangan AS-Israel ke Iran pada Februari. Sebagai balasan, Iran melontarkan ribuan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS, termasuk wilayah Arab Saudi. Esksalasi ini kian memanas setelah Arab Saudi juga kembali berkonfrontasi dengan kelompok Houthi di Yaman sepanjang bulan ini.
Post a comment