Siapa sangka, di balik kesederhanaannya sebagai tukang bangunan, tersimpan sosok ulama dan cendekiawan Muslim yang karyanya diakui hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Ibnu Harjo Al-Jawi, yang akrab disapa Mbah Riyan oleh warga Kudus, menerima MUI Award 2026 pada kategori Karya Tulis Keislaman. Penghargaan tersebut diberikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rangka Milad ke-51 MUI dan penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta.
Meski dikenal sebagai penulis puluhan karya ilmiah dan kitab yang menjadi rujukan dalam kajian ushul fikih, hadis, akidah, tasawuf, hingga tahqiq naskah klasik, Mbah Riyan tetap memilih menjalani hidup sederhana. Dalam kesehariannya, ia tetap bekerja sebagai tukang bangunan dan membaur bersama masyarakat, jauh dari sorotan publik.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pengabdian kepada ilmu tidak selalu identik dengan kemewahan atau popularitas. Justru dari kesederhanaannya, Mbah Riyan melahirkan karya-karya yang memperkaya khazanah intelektual Islam, baik di Indonesia maupun di dunia.
Menariknya, berbagai laporan menyebut Mbah Riyan memilih tidak menghadiri prosesi penyerahan penghargaan. Keputusan itu dinilai sebagai cerminan kerendahan hati yang selama ini melekat pada dirinya—lebih memilih mengabdi kepada ilmu daripada mencari panggung.
Kisah Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh profesinya, melainkan oleh ilmu, ketulusan, dan manfaat yang ia berikan bagi banyak orang.
Post a comment